Template by:
Free Blog Templates

Kamis, 13 November 2008

bleach

Bleach (ブリーチ, Burīchi?, diromanisasi-kan sebagai "BLEACH" di Jepang) adalah serial manga yang dikarang oleh Tite Kubo (久保 帯人 Kubo Taito), mangaka dari Zombie Powder. Serial Bleach mulai diterbitkan sejak tahun 2001, dan semenjak penerbitannya, serial ini sudah diadaptasi menjadi sebuah serial anime, dua buah OVA (Video Animasi Orisinil), satu film layar lebar, satu musikal rock, dan beberapa judul video game. Kompilasi manga (Tankōbon) Bleach sudah terjual sebanyak 39 juta kopi di Jepang. Manga ini diserialkan dalam mingguan Shonen Jump.

Bleach bercerita tentang Ichigo Kurosaki, seorang pelajar SMA yang memiliki kemampuan untuk melihat arwah, dan juga Rukia Kuchiki, seorang shinigami (dewa kematian) yang pada suatu hari bertemu dengan Ichigo sewaktu sedang memburu arwah jahat yang disebut hollow. Pada saat Rukia bertarung melawan hollow tersebut, ia terluka dan oleh sebab itu ia tidak memiliki jalan lain selain memindahkan kekuatan shinigami-nya kepada Ichigo. Sejak saat inilah petualangan Ichigo dan Rukia dimulai. Mereka berdua bertualang mencari dan melawan para hollow dan melaksanakan upacara penguburan arwah untuk para arwah gentayangan. Dengan upacara ini, para arwah gentayangan menerima pembersihan dan mereka dapat dikirim ke Soul Society (surga atau nirwana, yaitu akhirat dalam cerita ini). Bagian awal dari cerita ini difokuskan kepada karakter-karakter dan masa lalu mereka, dan bukan terfokus pada dunia pekerjaan shinigami. Seiring jalannya cerita, hal-hal seperti kehidupan shinigami di Soul Society mulai terungkap sedikit demi sedikit.

KFC Rilis Bonus Band

JAKARTA - Setelah sukses mengusung Juliette dan Antique sebagai band yang cukup dikenal di blantika musik Indonesia, waralaba makanan cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC) Music Hip List kembali menelurkan band barunya, Bonus.

Kelompok ini digawangi Bimo Sulaksono (drum), Willy (gitar), Epoy (bas), dan Anda Wardhana (vokal). Keempatnya bukanlah orang yang baru di blantika musik Indonesia.

Band yang merupakan brand ambassador baru KFC itu memiliki nama unik yang diambil secara spontanitas saat mereka bercengkerama usai latihan.

"Satu-satunya yang terpikirkan oleh kita saat itu adalah semoga Bonus bisa menjadi bonus bagi semua orang. Menjadi sebuah hadiah yang baik dan dinanti-nanti. Jadi bisa membawa kebahagian bagi siapa saja," ujar Bimo, saat ditemui di Planet Hollywood, Jakarta Selatan, Selasa (5/8/2008).

Tak hanya merilis grup musik saja, KFC juga melaunching album baru Bonus yang bertajuk Life Bonus.

"Album ini mencoba memberikan warna baru yang lebih kreatif dalam lagu-lagunya. Lebih easy listening, dan lebih ngebeat dari 12 lagu di dalamnya. Pokoknya siapapun yang mendengar lagu-lagu pada album ini akan merasakan suasana berbeda di setiap lagunya," ucap Bimo.

Pada momen tersebut, KFC juga memberikan penghargaan Double Platinum dan Platinum Album kepada band Juliette dan Antique. Hal itu dilakukan karena penjualan dua album grup band itu meroket beberapa bulan terakhir ini.

Keduanya meraih Double Platinum lantaran berhasil menjual lebih dari 150 ribu keping di 350 gerai KFC di seluruh Indonesia.

Platinum Album diberikan karena kedua band tersebut memiliki total penjualan hingga mencapai lebih dari 75 ribu keping.
(nsa)

d’Masiv Kumpulkan Ribuan ‘Jantung’

Jakarta Apa jadinya band tanpa penggemar? Bagi band baru d’Masiv, penggemar adalah jantung yang membuat mereka terus berdetak. Ribuan jantung pun berkumpul untuknya.

Baru 5 bulan saja band asal Jakarta itu merilis album perdananya ‘Perubahan’, mereka kini telah bisa mengumpulkan ribuaan penggemar yang disebutnya Massivers. Bertempat di blok M Plaza, Jakarta Selatan mereka secara resmi membuat klub penggemar d’Masiv.

“Kaget banget. Sedih dan terharu. Kemarin itu terdata ada 1.500 orang yang jadi Massivers. Nggak nyangka banget,” ujar Ryan sang vokalis kepada detikhot via ponselnya, Senin (30/6/2008).

Bagi Ryan, Ray, Kiki, Rama dan Why penggemar adalah segalanya. Serunya lagi, para penggemar yang terdaftar sebagai Massivers syarat utamanya adalah memiliki album asli d’Masiv. Acara ini baru digelar di Jakarta saja.

“Fans itu seperti jantung buat kita. Biar kita tetap eksis, bisa bertahan di dunia musik dan akan ada album selanjutnya lagi. Bersyukur banget. Bahkan ada yang bela-belain datang dari Brebes gitu cewek. Dia cuma pengen ketemu kita, dan dia nggak punya siapa-siapa di Jakarta,” kisah Ryan.

Setelah merilis single pertamanya ‘Cinta Ini Membunuhku’ nama band jebolan ajang Wanted 2007 itu langsung melambung. Hits keduanya pun tak kalah kondang. Lagu ‘Di Antara Kalian’ merajalela di banyak radio dan tempat umum. Tak lama lagi d’Masiv akan merilis single ketiga yang bertajuk ‘Diam Tanpa Kata’.
(yla/yla)

Harajuku Style

Harajuku sebenarnya nama sebuah tempat antara Shinjuku dan Shibuya di Tokyo, Jepang. Daerah itu adalah daerah nongkrong anak-anak gaul ibukota Negeri Sakura, sebuah kawasan kecil di tengah metropolitan Tokyo. Sebuah kawasan yang riang, disesaki oleh toko-toko dan para pemberontak busana yang dalam bahasa positifnya disebut “trend setter“. Mbedal, tak tunduk pada aturan tak tertulis, menyegarkan. Busana yang sangat tidak Jepang tetapi di saat yang bersamaan, sangat Jepang, belum pernah saya melihat yang begini dilakukan di tempat lain kecuali oleh para peniru … para Harajuku wannabe. Ada kesinisan dan keinginan yang sangat kuat untuk menertawakan tradisi. Tidak lagi seganas masa jayanya di tahun 80-90-an memang, tetapi Harajuku toh masih saja menjadi ikon pemberontakan gaya busana di Jepang.

Dalam hal berbusana, keseragaman adalah hal yang menjadi pemandangan sehari-hari di Tokyo, terutama di hari-hari kerja. Para pegawai kantoran (salary man) berdandan ala Man in Black minus kacamata hitamnya. Jas gelap, celana gelap, berbaju putih dengan dasi gelap, menenteng tas, rambut tersisir rapi, dengan gaya jalan seperti sedang dikejar demit. Anak sekolah, dasar dan menengah, tentu saja berseragam walaupun pada para pelajar putri sekolah menengahnya ada variasi yang besar dalam hal jarak ujung rok dengan dengkul. Seragam Sailor Moon. Sebuah bentuk pemberontakan kecil kepada lembaga pendidikan? entahlah.

Harajuku adalah tempat pelarian, begitu keyakinan saya. Tidak akan ada atasan atau guru yang akan melotot berang pada tata rambut meriah semau pemiliknya, busana bernuansa gothic, cinderella berwajah drakula bersepatu boot high heels untuk mendongkrak tinggi badan. Keinginan berkreasi dengan busana dan tata wajah bisa diumbar. Hanya saja, ke-Jepangannya masih menempel lekat. Begitu waktu kerja datang, bersalin rupalah mereka. Bukan wajah asli yang ditampilkan, justru topeng yang muncul. Wajah aslinya disimpan dahulu, untuk dipakai pada waktu yang lain.

Piranti bersalin rupa begini juga banyak ditemukan di Harajuku, dari mulai rambut imitasi warna-warni, kuku tempel, cat muka, busana ultra negong, tato tempelan, butiran plastik kerlip-kerlip, hingga gigi drakula. Soal harga, aneka rupa tentu saja. Para penjaga tokopun dituntut untuk dapat menjadi konsultan busana. Baguskah jangkar kapal ini dipadu dengan stocking merah jambu?

Lantas dari mana energi untuk lepas dari kelaziman itu didapat? Bisa jadi dari kekangan, begitu kata seorang teman. Kekangan waktu boleh jadi merupakan sumbat dari keinginan. Keinginan yang ditumpuk itu harus bersabar menanti saatnya untuk dilepaskan. Belum waktunya, sekarang adalah waktunya menghadiri rapat. Tidak ada kata terlambat hadir, karena kereta api di Tokyo berpresisi menit. Ada cerita, jika kereta api tiba di stasiun bukan pada waktunya berdasarkan jam yang sampeyan pakai, maka jam yang sampeyan pakai itu yang salah.

Jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api lantas menjadi semacam metronom yang mengatur irama hidup, dan metronom itu berdetak dengan ketukan yang monoton. Bisa dibayangkan kepanikan mereka jika ada kereta yang harus terlambat datang/pergi beberapa menit saja. Irama jadi rusak. Improvisasi? ndak bisa, karena sekarang bukan waktu dan tempatnya untuk berimprovisasi. Improvisasi hanya untuk manusia bebas, waktunya tertentu dan tempatnya di Harajuku.

Mereka biasanya mengenakan pakaian yang cukup unik dan fashionable. Mulai dari gaya gothic, hip-hop, punk, sampai dandanan berkarakter anime (kartun animasi Jepang).

Di Amerika Serikat, gaya berpakaian harajuku semakin terkenal ketika penyanyi solo asal Amerika Serikat, Gwen Stefani, menggunakan jasa penari latar berpakaian ala harajuku girls di beberapa musik videonya.
Empat penari latar yang merupakan asli orang Jepang itu pun mempromosikan gaya berdandan ala remaja Jepang yang modis kepada masyarakat dunia di setiap konser musik Gwen Stefani di berbagai belahan dunia.
Memang dunia fashion tak pernah berhenti di suatu masa atau waktu. Ini tinggal bagaimana anda memilihnya. Kalau Anda merasa cocok, silakan memilih gaya berpakaian harajuku.

GITARIS YANG MEMBAWA NAMA JAPANESE ROCK DI INDONESIA

Nama : Sony
Gaya Permainan : Rock
Band Saat ini : J-Rock’s
Pengaruh musikal : L’Arc~en~Ciel, Muse, Alicia Keys, The Beatles, Jimi Hendrix, RHCP, Siti Nurhaliza, Steve Vai
Posisi Dalam Band : Lead Gitaris
Gitar Yang Digunakan : Marlique Deluxe series (Pick Up VR extreme keluaran Tesla Pick Up Korea), PRS.SE Camouflage, Telecaster
Ampli : Head Cabinet Carvin Legacy
Prestasi : Juara 1 Nescafe Get Started 2004

Nama Sony sebenarnya belum sepopuler gitaris-gitaris papan atas Indonesia seperti Eet Sjahranie, Abdee Negara, Jikun, dll. Namun di kalangan fans-fans musik Japanese Rock Indonesia, gitaris satu ini dikenal secara luas karena sedang populer berkat suksesnya penjualan album Topeng Sahabat bersama grupnya, J-RockStar (JRS).

J-Rocks (JRS) memang masih baru dalam industri musik. Nama mereka mencuat setelah menjadi finalis dan akhirnya keluar sebagai juara pertama kontes musik yang diselenggarakan oleh Nescafe. Pada babak grand final JRS berhasil mengalahkan 2 band saingan, B-Five (dari Makassar) dan Cool Khas (dari Jogjakarta). Memang warna musik yang ditawarkan oleh JRS saat itu belum ada di industri musik Indonesia. JRS mengadaptasi musik L’Arc~en~Ciel dan beberapa artis Jepang lainnya. Akhirnya band ini mendapat kontrak rekaman dengan label Aquarius Musik. Album perdana pun di release dengan judul Topeng Sahabat. Album ini melempar hits ‘Lepaskan Diriku’ sebagai hits jagoannya. Video klipnya pun sudah sering tayang di TV. Hebatnya hits ini mampu bersaing dengan album-album dari band papan atas seperti Padi dan Dewa.

Uniknya lagi band ini memiliki pembenci dan penggemar yang cukup loyal. Saya sering menemukan beberapa keluhan dari para penggemar musik-musik Japanese Rock terhadap JRS karena musik yang terdapat di album perdana JRS sangat ‘wannabe’ dengan musik-musik Laruku. Bahkan dari kostum sampai video klip bisa dibilang sangat mirip. Selain itu JRS dianggap kurang etis karena memakai nama J-Rocks sebagai nama band. Hal itu dianggap mempersulit dan membingungkan orang untuk menyebut J-Rocks (nama band) dengan J-Rocks (jenis musik). Beberapa orang di berbagai forum, mailing list, dan friendster bahkan sering menyebut judul lagu-lagu Laruku untuk menyebut judul lagu JRS. Beberapa orang sering menyebut C’est la vie untuk menyebut lagu JRS yang berjudul Ceria, dll.

Namun banyak juga yang tadinya mencaci-maki, mendadak jadi bungkam begitu melihat penampilan live J-Rock’s. Pasalnya Sony punya skill bermain gitar diatas rata-rata. Dalam sebuah penampilannya di TV, ia dan sang vocalis yang juga gitaris, Iman, bermain sambil sedikit beratraksi dengan memainkan gitar di punggung.

Kesuksesan JRS dipasaran tak lepas dari polesan Bongky (BIP) dan UJI (ex The Brur) yang memproduseri album ini. Kemampuan JRS semakin terasah tajam, aransemen musik mereka juga semakin variatif tanpa menghilangkan gaya khas quartet ini.

Anyway, kini makin banyak bermunculan band-band yang beraliran Japanese Rocks setelah munculnya J-Rock’s. Hal ini sangat baik untuk variasi jenis musik di Indonesia yang biasanya ‘itu-itu saja’ (baca: pop mellow). Selain itu JRS juga selalu menampilkan sajian secara visual, sesuai dengan konsep musik-musik Japanese Rocks. Pokoknya band ini memang sangat keren. ;)

Prestasi Sony dengan J-Rock’s membuat pabrik gitar Marlique mengendorse nya bersama salah satu gitaris Slank, Ridho.